Seni Membuang Menu (The Paradox of Choice)
Menu yang tebal berlembar-lembar justru membunuh nafsu makan pelanggan. Ini alasannya.

"Saya mau jual semuanya! Nasi goreng, soto, bakso, pizza, sushi.. biar pelanggan punya banyak pilihan!" Niatnya mulia, tapi secara psikologis, ini bunuh diri bisnis.
Insight: The Paradox of Choice
Dalam sebuah eksperimen terkenal di supermarket, peneliti memajang 24 rasa selai vs 6 rasa selai.
- Meja dengan 24 rasa menarik lebih banyak pengunjung, tapi sedikir yang beli (3%).
- Meja dengan 6 rasa, pengunjungnya lebih sedikit, tapi 30% dari mereka membeli.
Terlalu banyak pilihan melumpuhkan otak (Paralysis). Pelanggan takut salah pilih, jadi akhirnya mereka tidak memilih sama sekali, atau kembali ke menu standar "Nasi Goreng Biasa" (dan merasa bosan).
Less Really IS More
Buka dashboard KasirUp Anda. Lihat data penjualan 3 bulan terakhir.
Buang 20% menu terbawah yang jarang laku (Dead Weight). Menu yang sedikit membuat:
- Bahan baku lebih segar (perputaran cepat).
- Koki lebih ahli (spesialisasi).
- Pelanggan lebih cepat memesan (turnover meja tinggi).



